Logo Navigasi

© 2026 Bahrul Ulum ID

Berita

“Seng Penting Samean Gelem Ngaji” — Cara KH Fadlullah Malik Membimbing Santri Sejak Kecil

Saturday, 16 May 2026 | 00:16 WIB

“Seng Penting Samean Gelem Ngaji” — Cara KH Fadlullah Malik Membimbing Santri Sejak Kecil

Diambil dari Youtube Bahrul Ulum Studio

Admin

Admin

Redaksi Utama

Rangkaian isyhad untuk almarhum almaghfurlah KH M. Fadlullah Malik menghadirkan banyak kesaksian tentang keteladanan beliau dalam mendidik generasi muda pesantren. Salah satunya disampaikan oleh KH Azzam Khoiruman Nadjib pada Kamis, 14 Mei 2026 di kediaman Kiai fadlulloh Malik. Gus Heru mengenang bagaimana Gus Fadl membimbing para santri dan dzuriyah sejak usia dini dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Menurut Gus Heru, salah satu karakter paling menonjol dari diri Gus Fadl adalah jiwa kepemimpinan dan kemampuan beliau dalam membina kader muda pesantren.

“Kiai Fadl niku punya karakter leader, punya karakter pemimpin, punya karakter mengkader. Niku tiga karakter yang melekat pada Kiai Fadlulloh. (Kiai Fadl memiliki karakter pemimpin dan kemampuan mengader. Tiga karakter itu sangat melekat pada diri beliau.)” tuturnya.

Gus Heru kemudian mengenang masa kecilnya saat pertama kali diajak mondok kilatan oleh Gus Fadl pada tahun 1984. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah dan belum memahami kehidupan pesantren sepenuhnya.

Ia berangkat bersama Gus Pipit dan Gus Fadl menuju Ploso untuk mengikuti pengajian kilatan Ramadan. Karena masih kecil dan baru pertama kali mondok, Gus Heru dan Gus Pipit membawa koper layaknya anak-anak pada umumnya.

Namun menurut Gus Heru, Gus Fadl tidak pernah mempersoalkan hal tersebut. Beliau tidak memarahi ataupun menegur mereka. Bagi Gus Fadl, yang paling penting adalah munculnya kemauan untuk belajar agama dan mengenal kehidupan pesantren.

“Seng penting samean gelem ngaji. (Yang penting kalian mau mengaji.)” ujar Gus Heru menirukan dawuh Gus Fadl.

Sejak saat itu, Gus Fadl mulai mengenalkan kehidupan pondok kepada anak-anak secara perlahan. Tidak hanya mengajak mengaji, tetapi juga mengenalkan tradisi, budaya, dan adab pesantren.

Gus Heru menceritakan bahwa dirinya pernah diajak sowan dan ta’aruf kepada para kiai di Ploso, mulai dari mengikuti pengajian ba’da dzuhur hingga sowan kepada para masyayikh dan bu nyai pesantren.

Lucunya, karena masih kecil dan belum terbiasa dengan jadwal pondok yang padat, Gus Heru pernah tertidur saat mengaji tepat di depan kiai yang mengajar. Namun pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar yang membekas hingga dewasa.

Menurut Gus Heru, Gus Fadl memang sengaja mengenalkan dunia pesantren sejak dini agar anak-anak terbiasa dengan lingkungan ngaji dan kehidupan santri.

“Artinya, sejak dini sampun diajarkan lan dikenalkan bahwa niki loh pesantren, meskipun dereng saged nopo-nopo. Dikenalkan kehidupan pondok, aktivitas pondok, budaya lan adab pondok. Kiai Fadl itu telaten ten masalah ngeneki. (Artinya sejak kecil sudah dikenalkan kehidupan pesantren meskipun belum bisa apa-apa. Dikenalkan aktivitas pondok, budaya, dan adab pesantren. Kiai Fadl sangat telaten dalam hal seperti ini.)” jelasnya.

Tradisi mondok kilatan tersebut terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Gus Heru kembali diajak mondok ke berbagai pesantren dan bertemu banyak ulama. Salah satunya mondok kepada KH Hasan bersama beberapa gus lainnya.

Pada masa itu, kondisi pondok masih sangat sederhana. Penerangan listrik belum berjalan penuh dan masih menggunakan mesin diesel sehingga lampu hanya menyala sampai sekitar pukul 11 malam. Setelah itu, para santri melanjutkan aktivitas dengan penerangan obor.

Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi pendidikan mental dan pembentukan karakter bagi para santri muda.

Menurut Gus Heru, bukan hanya dirinya yang diajak mondok keliling. Banyak gus-gus muda lainnya juga dibawa Gus Fadl untuk belajar langsung di berbagai pesantren agar mengenal lingkungan ulama sejak kecil.

“Tidak hanya kulo, gus-gus liyane ugi diajak kilatan. Artinya jiwa kepemimpinan beliau wonten, jiwa ngeramut kader-kader niku wonten, kesabarannya luar biasa, telatene luar biasa. Tapi humoris, guyone Masyaallah. (Bukan hanya saya, gus-gus lainnya juga diajak mondok kilatan. Itu menunjukkan jiwa kepemimpinan dan perhatian beliau terhadap kader-kader sangat besar. Kesabarannya luar biasa, ketelatenannya luar biasa, tetapi tetap humoris.)” kenangnya.

Tidak berhenti di satu pesantren saja, Gus Fadl juga mengajak para dzuriyah muda mondok kilatan ke berbagai ulama lain seperti KH M. Fadhol dan KH Asmu'i.

Dalam setiap perjalanan mondok tersebut, Gus Fadl tidak hanya mengajak belajar ilmu agama, tetapi juga memperkenalkan keluarga pesantren, para dzuriyah, serta tokoh-tokoh yang harus dihormati.

Menurut Gus Heru, ketelatenan seperti inilah yang membuat generasi muda Tambakberas tumbuh dengan rasa hormat kepada ulama dan memiliki hubungan emosional yang kuat dengan pesantren-pesantren lain.

“Kiai Fadl itu sangat utun lan telaten ngenalno sosok-sosok seng perlu dihormati lan dikenal. Bahkan amalan doa saking berbagai kiai. (Kiai Fadl sangat perhatian dan telaten dalam mengenalkan sosok-sosok yang perlu dihormati dan dikenal, termasuk amalan doa dari berbagai kiai.)” tuturnya.

Di mata Gus Heru, metode pendidikan seperti itu menjadi salah satu warisan besar Gus Fadl dalam membina generasi muda pesantren. Pendidikan tidak hanya dilakukan melalui pengajian formal, tetapi juga melalui pengalaman langsung, kedekatan emosional, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bagikan Kebaikan

Teruskan khazanah kebaikan ini kepada dunia.

Komentar